Selasa, 28 Oktober 2014

Memperkenalkan Habib

Ini adalah Habib Ikhwan, anakku. Ayahnya yang memberinya nama. Artinya? Kira-kira adalah Saudara Laki-Laki yang Dikasihi/Disayangi. Dia lahir 26 Mei 2014, hari senin jam 9.45 malam secara sectio caesar. Seminggu setelah aku dan geng kece kantorku kopdar di medan naik kereta api lalu besoknya creambath plus facial di salon pas jam kerja sore(persiapan yang matang untuk melahirkan kan?). Dia lahir ketika siangnya aku masih kerja di kantor dan mengajukan cutiku, niatnya sebulan sebelum HPL mau nyantai dirumah, taunya malamnya lahir karena air ketuban yang sudah bocor. Alhamdulillah Dia lahir sehat dan utuh, 2,7 kg panjang 41 cm, tidak cacat. Dia cucu pertama dari pihak orang tuaku dan cucu laki-laki pertama di pihak orang tua suamiku. Hari ini Dia sudah pandai telungkup sendiri, telantang sendiri setelahnya, menjerit-jerit, lalu ngoceh tidak jelas mengajak siapa yang didekatnya bercerita.




Jumat, 04 Juli 2014

Hari ini aku mencintaimu.
Besok aku akan berusaha mencintaimu lagi.
Lusa aku berharap masih mencintaimu.
Semoga Allah tau, selamanya aku ingin mencintaimu.
Meskipun dalam diam.

Jumat, 23 Agustus 2013

To : Mr. Eka Gusti Fadli

Selamat pagi sayang,
Selamat mengulang tanggal lahir ke setengah abad kurang satu.

Semoga umur yang udah ditentukan oleh Tuhan kita untukmu bermanfaat selalu. Sehat-sehat, kuat-kuat. Jadi imam yang bisa jadi tuntunan untuk keluarga kita. Jadi ayah yang benar-benar ayah segera.

Tumbuhlah dewasa. Semoga terus bisa bersama sama.

Selamat ulang tahun, cinta. Terima kasih telah memilih aku untuk menemani hidupmu.

*siapkan skripsinyaaaaa, biar jalan-jalan kita!!!* (keluar aslinya, haha :* :* :*)

Regards,
Your wife.

Selasa, 20 Agustus 2013

Our Wedding

Just share my "happy day" photos,


ini pas lagi didandanin. Aku rasa itu bukan aku.




bersama angkatan 45, sahabat-sahabat yang nggak ada matinya



Dureners yang udah jauh-jah datang dari Pulau Jawa dan Kalimantan sana




yang ini papa sama mama




Kinanthi, keponakan kesayangan. Semoga anakku nanti secantik dia :)

Senin, 12 Agustus 2013

Dua hari kemarin aku diajak pulang kampung sama keluarga dari suamiku. Ujung Batu namanya. Letaknya aku kurang tau pasti, tapi diantara Kisaran - Rantau Prapat, 226 km dari Medan, kalo ditempuh pake mobil pribadi kira-kira 7 jam, itu sudah pake berhenti pipis di dua pom bensin tapi nggak berhenti untuk makan siang atau sholat ya. Jalur kesananya bagus, jalannya mulus, tapi nggak begitu masuk ke detil kampungnya. Ujung batu ini ada di dalam dalamnya perkebunan Pulu Raja, Kabupaten Asahan.

Sebelum berangkat aku udah diingatkan oleh Bapak Uda (oke, panggilan-panggilan suku Batak ini masih memusingkan kepala saya) bahwa di kampung kami bakalan mandi di sungai karena nggak ada kamar mandi. Dan benar, rumah opung ada di pinggiran sungai Asahan, menurut cerita, dirumah itu sudah berkali-kali membuat sumur bor untuk sumber air tapi nggak bisa karena struktur tanahnya. Jadilah sebagian warga disitu membuat bak tampungan air hujan untuk kamar mandi mereka. Untuk masak, mereka membeli air bersih dalam dirigen, dan untuk mandi harus turun ke sungai sebelah kalo mau puas.

Sesampainya di kampung, aku disuruh duduk berjejer disamping suami, mau di upah-upah katanya. Disediain nasi sepiring besar, lauknya ayam kampung lengkap dari kepala sampai cekernya, biasanya ikan mas sih tapi karena akunya nggak bisa makan ikan diganti ayam. Upah-upahnya sederhana, kami disuruh megang piring nasi terus didoakan sama unde dan amang boru biar rukun berkeluarga, cepat dapet keturunan, dan lain lain dan lain lain, terus dikalungin sarung baru masing-masing. Upah-upah ini katanya upacara kecil untuk yang baru memasuki fase kehidupan baru, kan ceritanya aku keluarga barunya mereka nih karena nikah sama cucu Opung. Oiya, opung udah meninggal makanya yang upah-upah Unde sama Amang Boru.

Habis di upah-upah aku jadi ngerasa jadi orang Indonesia. Bukan orang Jawa lagi.